Ipeh Alena

Ipeh Alena Follow

Blogger
Xiaomi Minote Bamboo
#gm3_member

https://linktr.ee/blogipehalena

3,381 Followers  1,194 Follow

Share Share Share

Jalur Nagrek senantiasa menjadi jalan yang paling mendebarkan untuk Mirna. Dia tidak habis pikir, bagaimana mungkin jalanan sekecil itu dilewati truk dan kendaraan pribadi sehari-harinya. Padahal, letaknya berada di pinggir jurang. Rasanya, membayangkan salah belok sedikit saja, sudah membuat Mirna bergidik. Tidak terbayang akan seperti apa jadinya kalau tidak tepat memosisikan ban-ban mobil saat haluan yang berkelok. .
Malam itu, dia dan tiga orang temannya harus melewati jalur Nagrek. Dengan pencahayaan yang minim serta mobil-mobil yang melaju cukup kencang. Mirna beberapa kali terpekik kecil saat melintas persis di pinggir jurang. Konon, banyak mobil pribadi yang memilih mepet dengan kendaraan di depannya, seperti konvoi, agar tidak kecele antara belok kanan atau kiri. Pernah Mirna mengalami ketika kecil, saat itu Ayahnya yang menyetir kendaraan, bingung mau belok kanan atau kiri karena pekatnya malam menutupi jalanan yang ada di depannya. Percuma diberi lampu mobil, karena tetap tidak terlihat apa-apa.
.
Satu-satunya penolong mereka saat itu adalah seekor Kucing yang melintas di pinggir jalan. Berjalan dengan gontai seolah baru menelan tikus besar bulat-bulat. Ayahnya mengikuti jalur yang dilintasi si Kucing tersebut. Karena tidak ada kendaraan lain, Ayahnya Mirna memutuskan membuka kaca mobil untuk mematikan sebentar pendingin udara. Setidaknya, malam itu udara di sekitar memang teramat dingin. Menggigil rasanya setiap melewati beberapa titik tertentu. Terutama, ketika Mirna kecil melihat sebuah tikar kecil digelar persis di pinggir jalan. Dia menunjuk-nunjuk dan bertanya pada Ibunya. Namun, Ibunya terdiam. Ayahnyalah yang menjawab, "itu seserahan buat penunggu di situ," jawabnya santai.
.
Mirna selalu tersenyum tipis setiap mengingat pengalaman yang membuatnya sering bermimpi buruk. Dan saat itu, dia kembali melintas di tempat yang pernah dilewatinya seperti dulu. Bobi, temannya, mematikan pendingin udara dan membuka kaca jendela. Sambil sesekali membunyikan klakson, katanya sebagai ganti ucapan "permisi". Di kiri jalan, dia kembali melihat ada tikar kecil, kendi kecil dan piring kecil berisi bunga-bunga. Ketika melintas, seisi mobil mencium bau Kemenyan.
Buat yang tinggal di Bekasi. Mampir yuk ke @decathlon.bekasi yang bakalan buka di Summarecon Bekasi. Kenalan juga sama Panther Martial Arts. Siapa tau ada adek, kakak, temen, pacar, yang kepengen belajar bela diri di Kota Bekasi. .
.
.
#bekasi #martialarts #kotabekasi #panthermartialarts #beladiri #kempo #taekwondo #pencaksilat
#ODOPDay10 Jika saya jadi duta baca.....
.
.
Saya akan bekerjasama dengan kemendikbud untuk menetapkan kurikulum khusus untuk membaca. Dimana di dalamnya akan ada pelajaran mengenai bagaimana membaca, jenis membaca, bagaimana menulis ulasan, langkah-langkah apa yang bisa dilakukan untuk membuat ulasan bacaan, bagaimana cara merangkum, bagaimana cara menganalisis bacaan. Serta, bagaimana cara merawat buku.
.
.
Kurikulum tersebut tidak hanya sekadar perintah atau acuan wajib saja, tapi juga memberikan pembekalan berupa buku-buku yang bisa dipilih siswa-siswi untuk dibaca. Dikirim ke setiap sekolah sesuai jumlah murid yang menerima. Siswa dan siswi sekolah diberikan kebebasan membaca buku apa yang mereka inginkan dan sesuai selera mereka. Tidak ada paksaan. Hanya saja, dalam praktek belajar di sekolah, guru memberikan edukasi tentang siapa saja sastrawan Indonesia dan buku-buku yang memang direkomendasikan untuk dibaca sesuai usia. .
.
Saya juga ingin bekerjasama dengan para penulis masa kini, untuk memperbanyak menulis untuk anak-anak yang memiliki muatan yang ringan namun membahas semua aspek kehidupan. Buku-buku seperti Dru dan Kisah Lima Kerajaan karya Clara Ng, Mata karya Okky Madasari dan beberapa karya anak-anak lawas yang ditulis Arswendo.
.
.
.
Kalau saya menjadi duta baca. Saya ingin semua pengajar dibekali terlebih dahulu kemampuan dalam bidang yang akan mereka ajarkan. Para guru ini pun akan diajak untuk membaca dan membaca. Didorong untuk membaca dan mengulas bacaannya agar para pengajar nantinya memiliki keahlian yang lebih. Sehingga, tidak ada kesulitan nantinya saat mereka mengajar.
.
.
Jika saya jadi duta baca.... Saya akan...membaca buku apa saja, sosial, fiksi, non fiksi, agama, sejarah, biografi, semuanya. Semuanya ingin saya baca. Karena, buku adalah jendela bagi kita untuk melihat dunia.
.
.
.
#desembermenulis #gerakanonedayonepost #onedayonepost #blues #writingofig #writersofinstagram #writtingcommunity
#ODOPDay9 Konsisten merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti (a1)tetap (tidak berubah-ubah), taat asas, ajek, (a2) selaras, sesuai. .
.
.
Kalau ditanya bagaimana caranya agar konsisten membaca? Menulis? Saya enggak bisa jawab. Karena, saya beberapa kali berusaha bangkit untuk bisa terus menulis dan membaca dengan cara mengikuti akun-akun yang berisi ajakan untuk giat menulis atau giat membaca. Sama seperti akun @gerakan_1day1post yang membuat saya bisa menulis sampai hari ke-9 dan akun @gerakan_1week1book yang memberi saya semangat untuk giat membaca.
.
.
Tapi, kalau ditanya apa hal yang paling konsisten dari diri saya? Jawabnya ada di ujung langit, kita ke sana dengan seorang anak, anak yang tangkas dan juga pemberani. Hehehehe. Enggak...enggak. Jawaban saya adalah Bentuk Tubuh. Dengan bobot yang kalau dilihat dari luar mirip-mirip dengan karung beras. Inilah hal yang paling konsisten dalam diri saya. Entah mau bahagia atau gimana, haha, tapi yang pasti harus Allhamdulillah Alakullihaal. .
.
.
#desembermenulis #gerakanonedayonepost #onedayonepost #writingofig #writersofinstagram
#ODOPDay8 Pada akhirnya baru bisa unggah foto ke IG malam ini.  Buku ini termasuk buku favorit saya. Sudah cukup sulit ditemukan di toko buku konvensional. Pun, kalau ada, biasanya terselip di jejeran buku-buku lawas di toko buku online. Buku yang ditulis oleh mantan menteri mendikbud pada masa pemerintahan Soeharto ini merupakan guru besar di bidang Psikolog.
.
Lantas, apa yang membuat buku ini berkesan? Di dalamnya, Opa Fuad menuliskan tentang kondisi orang-orang yang mengalami ketergantungan dengan telepon. Pada masa itu, telepon kerap digunakan. Sedikit menyindir tentang mereka yang lebih nyaman komunikasi lewat telepon ketimbang berbincang dengan orang yang ada di dekatnya. Dan di masa saat ini, pun terjadi dengan manusia dan teknologi. Dimana tidak jarang ketika berkumpul bersama, kemudian berbincangnya tetap melalui aplikasi di gawai mereka.
.
Tidak hanya itu, Fuad yang menuliskan buku ini sekitar tahun 90-an juga menuliskan tentang kebutuhan masyarakat modern akan psikolog. Di sini saya bisa melihat, bahwa tanda-tanda masyarakat modern saat ini sudah tampak saat itu, dengan bentuk berbeda, mungkin. Sehingga, membuat saya tidak ayal menjadi boneka angguk-angguk yang sering dipasang di mobil. Sepanjang membaca essay-essay di sini, saya termenung cukup lama dan mengangguk. Kondisi yang dituliskan di buku ini, tentang Manusia, Kehidupan Sosial dan Teknolgi, menjadi cerminan masyarakat masa kini. .
Itulah alasan kenapa saya menyukai buku ini. Karena, senantiasa mengingatkan saya setiap saya sedang dalam mode tidak peduli pada sekitar. Kemudian teringat kembali, bahwa, penting untuk manusia agar hadir secara utuh dalam kehidupan.
.
.
.
#desembermenulis #onedayonepost #gerakanonedayonepost
#ODOPDay7 Belakangan ini, saya memang lebih banyak membaca buku elektronik dibanding membaca buku fisik. Alasannya, pada mulanya, tempat penyimpanan buku sudah tidak memadai, sehingga saya putuskan membaca buku elektronik yang legal. Entah itu dari aplikasi berlangganan seperti Gramedia Digital, Kindle atau Scribd. Dimana, kadang pun saya membeli buku elektronik di Playbook atau di Kobo. .
Alasan berikutnya, saya ingin memiliki buku fisik dari buku-buku yang memang benar-benar saya inginkan saja. Cara ini memang cukup ampuh membabat timbunan buku fisik karena terhitung sudah tinggal 8 buku fisik yang belum saya baca. Kalau timbunan buku elektronik, kebetulan saya memilih yang memang ingin saya baca saja. Jadi, tidak ada timbunan, entah itu ebook yang beli maupun ebook yang tinggal pilih di media langganan ebook.
.
Hasil dari cara ini, mendatangkan keuntungan sendiri bagi saya. Karena, saya belajar membeli apa yang saya inginkan dan membaca apa yang sesuai selera dan sesuai kebutuhan. Meskipun tampak jadi mengurangi tumpukan buku atau ebook, tetap saja ada kekurangan yang saya rasakan. Saya jadi tidak bisa lepas dari gadget karena dipakai untuk baca ebook. Mata saya pun terkadang terlalu kelelahan karena gadget yang saya pakai belum ada teknologi E-Ink. Karena itulah, di postingan saya di blog ipehalena.com. Saya mengungkapkan keinginan terpendam untuk bisa punya Digital Reader yang sudah support E-Ink. Sehingga mata saya tetap terjaga dan tidak kelelahan lagi.
.
.
Jadi, siapkah kamu beliin daku Sony Digital Reader yang mahal itu? @iyascovery HAGHAGHAGHAGHAG.
.
.
.
.
#desembermenulis #onedayonepost #gerakanonedayonepost @gerakan_1day1post
#Odopday6 Jika kisah hidpku dibukukan, saya ingin membuat tampilan sampulnya warna-warni seperti pelangi. Mewakili kehidupan saya yang tak melulu berwarna orange, biru atau abu-abu saja. Tapi, beragam warnanya. Terkadang bisa biru pekat, mendayu-dayu pula hingga tampak kemudian berubah menjadi sepekat abu-abu akibat mendung menggelayut dalam kehidupan. Terkadang, bisa hitam, seperti pemandangan hutan hujan kala malam hari, berisi kegetiran-kegetiran dan rintihan. Namun, beberapa hari kemudian, bisa berubah menjadi warna putih, seolah gelapnya telah pudar. Kemudian diiringi dengan warna merah, ketika semangat dalam hidup tengah berkobar hingga berubah menjadi oranye. Oranye...warna yang mengagumkan dan menenangkan.
.
Demikian pula isi di dalamnya. Saya ingin, buku tersebut disertai gambar-gambar yang warna-warni. Persis seperti buku Dru dan Lima Kerajaan karya Clara Ng. Agar pembaca tak bosan. Agar ketika pembaca menemukan hal yang sama dalam kehidupan mereka, tidaklah enggan untuk mengakuinya. Tapi, justru masih bisa tersenyum, meski kisah yang saya jabarkan dalam buku mengingatkannya pada kisah paling sedih sekalipun. Karena, gambar-gambar yang ada tak hanya menunjukkan rasa sakit, tapi juga kegembiraan yang terkadang datang dalam bentuk sederhana. Hingga halaman terakhir, saya ingin, nantinya pembaca bisa tersenyum lebar. Sumringah. Yakin bahwa dalam hidup akan terus dipenuhi warna. Bahkan, Tsukuru Tazaki saja, yang berpikir bahwa namanya tidak mewakili sebuah warna saja, kehidupannya tampak lebih berwarna. Karena hidup itu akan selalu berwarna seperti pelangi. .
.
#desembermenulis #onedayonepost #gerakanonedayonepost #writersofinstagram #writtingcommunity #writingofig
Semoga berkah untuk Hamba Allah yang jadi sponsor #hf_landscape di #hits_fotografi @hits_fotografi .
.
.
Disuruh mension temen...semoga ndak keberatan kumension :D @lidhamaul @ria_rochma @rotundf
Kata Menanti selalu diiringi dengan kata Sabar. Konon, keduanya seperti dua sejoli yang saling membutuhkan namun sering tidak bertepatan waktu kedatangannya. Beberapa, ada yang Menanti tanpa menunggu dengan Sabar. Beberapa pula ada yang menyadari bahwa Menanti dengan Sabar akan selalu mendatangkan kebahagiaan.
.
Sama halnya dengan Lapar, konon seperti orang ketiga namun tidak membuat porak-poranda. Tapi, jika Lapar tidak disertai dengan Sabar saat Menanti, maka bisa porak poranda pula semuanya. Penantian dalam kehidupan itu seperti pola. Jika Lapar datang, maka dia akan Menanti dengan Sabar hingga NASInya matang saat memasak. Lihatlah, betapa ketiganya memang selalu berjalan beriringan.
.
Dengan begitu, Penantian yang diiringi dengan Sabar, tentu akan mendatangkan semburat senyum kala apa yang dinanti tiba, datang, muncul, cair, hinggap dan sampai. Semua Penantianku pun begitu, ketika Nasinya sudah matang dan siap untuk disantap. Buah dari keSabaran yang tidak membuat sesal.
.
.
.
.
#uploadkompakan #ukchallenge226 #ukzalfamiracle @uploadkompakan @zalfamiracle .
.
.
.
.
#odopday5 #desembermenulis #onedayonepost #gerakanonedayonepost
#Odopday4 Kali ini perihal keberuntungan saya yang dibahas. Dalam hal ini keberuntungan saat mengikuti giveaway. Bisa dibilang, saya jarang ikutan giveaway, terutama yang berhadiah buku. Bukan apa-apa, terkadang buku yang ditawarkan sebagai hadiah bukan termasuk buku yang saya incar. Tapi, saya biasanya akan mengikuti giveaway yang berhadiah voucher belanja buku dengan syarat yang tidak terlalu sulit. Banyak maunya, ya! .
Setiap mengikuti giveaway, saya tidak pernah berharap banyak. Kenapa? Karena tahu, terkadang saya memang ditakdirkan untuk membeli sendiri buku yang saya incar. Jadi, setiap mengikuti sebuah giveaway, saya biasanya langsung melupakan begitu saja tanpa perlu memikirkan terlalu lama. Yang penting saya sudah mengikuti peraturan yang diminta .
.
Saya pernah, seinget saya, menang giveaway yang diadakan oleh akun luar negeri dan berhadiah voucher belanja. Seingat saya, saya pernah menang dua kali meski tidak berturut-turut. Yang satu berhadiah buku Eliza and Her Monsters. Dan yang satunya berhadiah Revival karya Stephen King. Dua hadiah tersebut membuat saya tersenyum manis. Minimal ada pengalaman menang giveaway, #tertawameringis.
.
Meski jarang menang, tidak membuat saya patah semangat ikutan kuis atau giveaway yang hadiahnya memang saya inginkan atau sesuai selera saya. Karena, buat saya, nothing to lose. Cuma berbekal #numpangwifi dan ikutan syaratnya saja, toh tidak terlalu sulit. Kecuali beberapa giveaway yang mewajibkan untuk follow sampai 5 akun secara berturut tapi kesempatan menangnya kecil. Mending ikutan yang syaratnya enggak ribet. Hidup sudah ribet, kenapa harus dibikin ribet lagi?!£###£#
.
.
.
#desembermenulis #onedayonepost #gerakanonedayonepost
Teruntuk Pak Arswendo,
.
.
.
Sebenarnya, kita bertemu sudah dua kali. Dua kali itu pula kau menyapa dengan hangat dan ramah. Dua kali pula, aku dengan semua ke-norak-an-ku melebur menjadi satu dalam bingkai foto. Tapi, bukan itu yang ingin kusampaikan.
.
Aku ingin mengatakan bahwa aku sangat bersyukur mengenalmu dan karyamu. Awalnya, aku termasuk orang yang memicingkan mataku padamu hanya karena engkau pernah masuk penjara. Tanpa kutahu apa penyebabnya. Aku menjadi seorang penuduh. Ah, betapa piciknya aku.
.
Tapi, pertemuan pertamaku denganmu terjadi melalui dialog-dialog yang tampak hidup pada kisah keluarga Pak Bei di Canting. Betapa aku bisa mendapat gambaran yang tampak hidup dari dialog para tokoh yang mengajak pembacanya ikut duduk bersama dan berbincang.
.
Pak Arswendo, taukah Anda? Bahwa aku dan kawanku @iyascovery menyukai satu lelaki yang sama dari novel yang Anda tulis? Dia bernama Bong. Iya, si Bong yang membuat Keka kecil dan Keka Dewasa klepak-klepek, demikian pula kami berdua yang bisa membahas mengenai Bong sampai berjam-jam.
.
Pak Arswendo, terima kasih untuk dialog yang hidup dalam sebuah buku. Terima kasih, karenanya aku bisa melihat bahwa tidak banyak yang bisa menghidupkan suasana hanya dengan dialog.
.
Yasudah, kututup surat kecil ini. Karena aku tahu, ketika bersua nanti, aku hanya bisa mengatakan, "Om! Bongnya kemana?" .
.
.
.
#odopday3 #desembermenulis #onedayonepost #gerakanonedayonepost @gerakan_1day1post
M untuk M.O.B.I.L.
.
.
.
.
.
📍 Museum Angkut Malang.
.
.
.
.
@uploadkompakan #uploadkompakan #ukeimm