Dahlan Iskan

Dahlan Iskan Follow

#dahlaniskan

http://disway.id/

39,823 Followers  7 Follow

Share Share Share

09 September 2019
10:20 
Tiba-tiba saya sudah dekat ke Pohon Harry Potter. Tidak ada maksud ke situ. Saya bukan penggemar novel Harry Potter. Saya juga belum nonton filmnya. Saya pernah beli novel itu tapi untuk cucu saya - -Icha Iskan. Yang gila Harry Potternya ampun-ampun. Yang dialog di filmnya pun bisa menirukan - -dengan logat khas Inggrisnya. Tentu saya ke pohon itu - -untuk cucu saya itu. Berfoto di situ - -untuk cucu saya juga. Banyak turis ke situ. Bisa dimintai tolong ambil foto. Termasuk turis dari 'kampung kedua' saya itu: dari Tianjin. Pulang kelak saya akan bertanya pada Icha - -pohon apa itu. Dan di adegan apa Harry Potter di komplek University of Oxford, Inggris itu. Saya juga belum sempat bertanya: apakah saat dia ke London satu bulan di tahun lalu sempat ke pohon itu. #dahlaniskan
Saya suka ajak Robert Lai tebak-tebakan. Kalau kami lagi di luar negeri. Pertanyaannya: kira-kira bangsa mana orang itu. Kami memang sesekali melihat orang yang tidak jelas kebangsaannya. Terutama kalau dilihat dari wajahnya. Biasanya kami bisa membedakan mana wajah Prancis, Jerman, Inggris, Finlandia, Rusia, Jepang, Korea, Tionghoa. Kadang juga sulit. Saya sendiri sering dikira orang Thailand. Atau Filipina. Robert, yang Singapura kelahiran Hongkong itu, sering dikira orang Jepang.
Sekarang saya ingin tebak-tebakan dengan Anda: orang mana yang saya ajak foto bersama itu. Wajahnya begitu unik. Cantiknya tidak jelas - -cantik Timur atau cantik Barat. Atau cantik Latin. Atau Asia.
Saya bertemu dia di Leicester, Inggris. Kemarin. Saat saya makan siang di rumah makan Korea.
Amati dulu wajahnya. Sebelum meneruskan membaca ini. Lalu Anda coba menebak. Cocokkah tebakan Anda dengan informasi yang akan saya berikan berikut ini.
Dia orang Inggris. Dari kota Leicester. Lahir di sini. Bapaknya Inggris, kulit putih. Ibunya Sichuan, Tiongkok. Mirip siapakah dia? #dahlaniskan
Udara sejuk di London. Apalagi di bawah kerindangan pohon-pohon di Hyde Park. Bisa menulis naskah DisWay di tengah rontokan daun-daun. Menjelang musim gugur ini. Untuk disway.id edisi besok pagi. Lalu melihat mimbar demokrasi di salah satu sudut taman seluas 1,4 juta meter persegi ini. Banyak orang pidato di situ. Atau berdebat. Tentang apa saja: Islam-Kristen, Brexit-Remain, laki-laki vs perempuan. Tradisi debat terbuka di Hyde Park ini sudah ada sejak tahun 1860-an. Debat di tahun-tahun awal dulu seru. Waktu itu agama lagi di atas segalanya. Termasuk memperdebatkan rancangan UU yang melarang berjualan apa pun di hari Minggu. Sampai hari Minggu lalu debat soal agama masih yang paling seru. #dahlaniskan
Waktu kecil saya suka kereta api. Yang angkut tebu itu. Saya hafal kereta nomor berapa lengkingan klaksonnya seperti apa. Lalu lari ke sawah. Melihat kereta dari jauh. Lalu berlari terus. Mendekati kereta api. "Betul kan?! Klakson kereta nomor 6 kan?!," kata saya dalam hati. Setelah bisa melihat nomor di badan kereta itu.
Setelah dewasa saya mengagumi pesawat. Terutama setelah mampu membeli tiketnya. Pernah saya harus ke London dulu. Hanya ingin naik pesawat Concorde. Yang adanya hanya dari London ke New York. (Atau Paris Washington). Yang kecepatannya dua kali suara itu. 
Kini kekaguman saya beralih ke pesawat A-380. Bikinan Perancis itu. Waktu ke Madinah pun cari yang ada A-380 (Jakarta-Dubai pakai B-777, Dubai-Madinah A-380). Ke New York pun lewat Dubai. Agar bisa naik A-380 dari Dubai ke New York.
Ke London kali ini pun saya lewat Dubai. Agar bisa naik A-380 dari Dubai ke London.
Yang seluruh lantai atasnya untuk kelas bisnis dan first class. Yang ada bar-nya yang luas. Yang beberapa orang biasa salat di situ. 
Saya tetap mencintai kereta. Ke Lubuk Linggau naik kereta. Dari Palembang. Ke Hokkaido naik kereta dari Tokyo. Yang lewat bawah laut itu. Dari Paris ke London naik kereta. Madrid-Barcelona naik kereta. Lisbon-Porto naik kereta. Di Maroko naik kereta. Dari Washington ke New York naik kereta. Apalagi dari Shanghai ke Beijing. Kereta terburuk adalah dari Ho Chi Minh City ke Danang di Vietnam. Lebih buruk lagi kereta di Myanmar.
Yang belum terkabul: naik kereta baru dari Mekah ke Madinah. Dulu saya begitu ingin naik kereta baru dari Mekah ke Arafah. Ternyata hanya khusus untuk orang Arab. Siapa yang pernah naik kereta dari Mekah ke Madinah? Tidak khusus untuk orang Arab kan? #dahlaniskan
07 August 2019
21:09 
Saya beruntung sempat ngaji pada beliau: Kyai Haji Maemun Zubair. Meski hanya satu jam. Bersama santri tasawuf (filsafat) beliau. Di pendopo rumah beliau di dalam komplek pondok Sarang, tidak jauh dari perbatasan Jateng-Jatim. Hari itu mata pelajarannya adalah 'ihya ulumuddin' dari Imam Al Ghazali. Ditambah setengah jam tanpa murid yang lain. Tentang perjalanan pemikiran hukum Islam. Lihat DisWay edisi besok. Saya bertemu beliau lagi di pondok Denanyar, Jombang. Saat 40 hari wafatnya Kyai Aziz, pengasuh Denanyar. Sekali lagi kita kehilangan ulama besar. Yang wafat di Mekah, Selasa  lalu. Beliau adalah lautan ilmu dan kebijaksanaan. #dahlaniskan
Makan pun antre panjang. Tapi pelayanan di restoran Suzhou ini istimewa. Yang bawa bayi kecil disediakan box bayi. Lengkap dengan tudungnya. Untuk bayi besar disediakan box terbuka. Untuk yang datang sendiri disediakan teman makan. Lihatlah pria yang makan sendiri itu. Disediakan teman. Berupa boneka besar. Didudukkan di kursi depannya. Disediakan juga piring dan sumpit untuk boneka itu. Disajikan juga gelas yang berisi minuman di depannya. #dahlaniskan
Dua wanita kalahkan dua pria. Lihatlah dua laki-laki itu. Mendorong anaknya dengan cara biasa: dinaikkan ke troly bandara. Beda dengan nenek itu. Yang menaikkan cucunya di alat khusus. Saat di tepi danau Xihu, Hangzhou. Sampai menarik perhatian isteri saya. Lebih hebat lagi ibu lemu itu. Bisa mengerjakan tiga hal sekaligus: menelepon, menarik koper dan 'menggendong' anak. Saat si ibu turun dari kereta cepat di Hangzhou. Tangan kirinya menelepon. Tangan kanan menarik koper. Si anak di atas koper. Tapi kopernya itu lho. Di mana belinya? Kok desainnya begitu  cocok untuk ibu-ibu muda! #dahlaniskan
Saya antre makan siang di kota kecil. Untuk ukuran RRT. Yang ada sungainya itu. Di meja antrean, ada tiga QR. Yang satu untuk diklik: antrean layanan pedicure. Gratis. Satu lagi bisa diklik: untuk dapat sajian berbagai buah. Gratis. Masih ada satu QR lagi di bungkus sumpit: untuk lihat menu di restoran itu. 
Sambil menunggu, Anda bisa pedicure, sambil makan buah, sambil pula pilih-pilih makanan. Apalagi di kota besar. Restoran sudah tidak menyediakan buku menu. Bisa dilihat di QR di pojok meja. Membayarnya pun lewat QR di pojok meja itu.
Dalam kunjungan saya ke kota Nanchang itu (lihat foto) ada satu lagi di pojok meja: “apa ini?“ tanya saya.
Ternyata itu charger HP wireless. Lihat foto. Anda tinggal meletakkan HP di atas warna hitam itu. Tanpa kabel. Tanpa soket. Tentu HP-nya harus yang  model terakhir. Huawei atau iPhone terbaru. Mirip fasilitas di mobil Mercy type  MayBach S450 yang mengantar saya ke restoran itu. Begitu selesai makan, baterai HP Anda pun terisi lagi. Tidak ada alasan tidak bisa bayar karena lowbatt. #dahlaniskan
Manhattan tidak harus di New York. Amsterdam dan Beograd tidak harus di Eropa. Di pedalaman Amerika banyak kota kecil yang bernama Liverpool, Manchester, London dan apa saja. Ada juga kota kecil Freeport di Minnesota. Sambil mengemudikan mobil ke berbagai sudut pedalaman Amerika kadang saya minggir sebentar. Memotret nama-nama ganda itu. Tapi kalau buffalo terbesar di dunia hanya ada satu ini patungnya: di pedalaman North Dakota. Banyak negara bagian di Amerika yang kaya. Buffalo. Tapi kota ini mengklaim duluan sebagai 'kota Buffalo'. #dahlaniskan
Tidak sengaja. Lewat situ. Tidak menyangka. Melihat itu. Saat berjalan menuju hotel Trump International Washington DC. Ada dansa di plaza terbuka Jalan Madison. Dansa Tango. Lihatlah gedung Kongres terlihat jauh di belakang sana. Ternyata itu tiap Sabtu malam. Di musim panas. Mulai jam 7 sampai 10 malam. 'Amerika sudah seperti Tiongkok saja' kata saya dalam hati. Lapangan terbuka dipakai dansa. Siapa saja bisa mengajak wanita yang mana saja berdansa. Kalau yang diajak mau. Ternyata sudah 10 tahun ini  berlangsung seperti itu. Berkat ide dari pengurus asosiasi pedansa Tango Washington DC. Para wanitanya membawa beberapa sepatu dansa. Ditaruh di pinggir arena. Mereka ganti-ganti sepatu sesuai dengan irama lagu. Saya sengaja tidak mengajak salah satu wanita di situ. Takut di saat dansa kakinya saya injak melulu. #dahlaniskan
Saya kesasar ke toko di Beleveu, 'Depok'-nya Seattle ini. Kirain toko keju. Lihatlah irisan-irisannya. Ternyata itu toko sabun. Bentuknya dibuat macam-macam. Ada yang seperti kue. Ada yang seperti bola. Ada pula yang seperti hati cinta. Aromanya pun puluhan pilihan. Kalau tidak cocok juga ada pilihan terakhir: meramu sendiri. Disediakan adonannya seperti kita mau bikin dawet beku. Saya tidak pernah pilih-pilih sabun. Sampai tamat SMP saya belum pernah mandi pakai sabun. Di desa dulu. Hanya digosok daun atau batu. Atau sambut kelapa. Persaingan dunia sabun sudah begitu kerasnya. Bingung kalau harus memilih. Saya coba bikin sendiri. Hasilnya parah. Beli jadi saja. #dahlaniskan
Sekarang sudah bisa di follow kembali Twitter saya bila ingin melihat update-an di Twitter. Terima kasih