Halimi Zuhdy

Halimi Zuhdy Follow

MerinduNya, Password dari Penghambaan
I MencintaiNya, Puncak dari keimanan I

http://halimizuhdy.com/

3,771 Followers  110 Follow

Share Share Share

Jangan Mudah Tersulut, Bara Itu Selalu Siap
@halimizuhdy3011
.
Bangsa ini sudah sangat tua, walau kemerdekaanya baru 74 tahun dibanding penjajahan negeri, tapi ia sudah banyak makan asam garam, tak perlu diragukan lagi.
.
Sudah banyak darah yang tumpah, untuk membangun sebuah bangsa. Sudah banyak tulang yang patah untuk menegakkan bhineka. Sudah banyak nyawa melayang untuk bumi Indonesia. .

Manokwari rusuh, gegara vedio yang tidak jelas datangnya, berbagai isu dikobarkan, bahwa Surabaya dan Malang dianggap mengusir mereka, dan belum tentu benar, tapi narasi sudah dicipta. Papua adalah saudara Surabaya dan juga Malang, tak ada yang mengusir mereka, mungkin hanya bertemu saat demo belaka.

Ditambah Vedio Ustadz Somad, entah kapan beliau berceramah, semakin menghembuskan bau tidak sedap. Bagi yang pintar merekayasa, sempurnah cara menghembuskan bara yang menyala, apalagi ada bumbu masak dengan ungkapan Papua “Tanah Israel Kedua, The Second Land of Israel” .
.
. …..maka pihak-pihak yang hasud, yang selalu tidak suka bila melihat Indonesia jaya, bila Indonesia damai, bila Indonesia sejahtera, mereka denan ringan tangannya menyebar fitnah, vedio dipotong-potong, atau vedio asli namun diberi bumbu-bumbu narasi yang membuat emosi.
. 
Maka, tenangkan hati, jangan mudah terbakar emosi, berikanlah pada yang berhak menghukumi. Tidak cukup dengan emosi kemudian bakar-bakar rumah sendiri, apalagi rumah milik negeri.
.

Tidak ada sesuatu yang tidak dapat diselesaikan, apabila semuanya memiliki satu hasrat “Damai untuk Negeri”

Malang, 19 Agustus 2019
Halimi Zuhdy
Dirgahayu Republik Indonesia yang ke-74
Jaya selalu Indonesiaku

#اندونيسيا_مرديكا
#ميلاد_وطني 
#مرديكا
#ميلاد_وطني_74
#يوم_وطني_اندونيسيا

INDONESIA PUSAKA

Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Slalu dipuja-puja bangsa
Disana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Sampai akhir menutup mata
Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Slalu dipuja-puja bangsa
Disana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Sampai akhir menutup
Mata

Berikut terjemahan ke dalam bahasa Arab.
Welcome the flowers of 2019
@halimizuhdy3011

Flower will be bloomed
If water says hallo 
From this kind hand
Showered with beautiful caresses

It will not only blooming but it will be so stunning
Spreading its heavenly flavor so purely

How can this flower above the red one will be so magnificent throughout the whole universe if not by the 
Divine carresses

Not enough poem to be boasted on
Sometimes only laughing outloud then act crazily

The flower will be vanished with all those nonsense hope
If the land is dried

Rains never come
When pools are dried full with corpses 
Flower will be vanished or died 
If noone knows
Where the evening and afternoon go

Welcome BSA Fresh 2019 Humaniora Faculty  UIN Malang

Malang, 16 Agustus 2019

The writer Kajur BSA
(Halimi Zuhdy)
The translator (Dewi Cahyani)
(Memahami kata "Wafat" dan "Maut" dalam linguistik Arab)
@halimizuhdy3011

Bahasa adalah cerminan dari budaya suatu bangsa, dan setiap bahasa memiliki keistimewaan dan karakter sendiri. Bahasa yang digunakan dalam suatu bangsa, dianggap mewakili karakter dari bangsa tersebut.

Misalnya, dalam mengungkapkan kata “kematian”, antara suatu bangsa dan bangsa lainnya berbeda, baik dari ungkapannya atau perlakuannya.

Dalam bahasa Indonesia, kata “mati” memiliki banyak sinonim (al-mutaradifat), di antaranya; berkalang tanah, berkubur, binasa, bobrok, buang nyawa, gugur, hilang hayat, hilang jiwa, hilang nyawa, jangkang, kaku, kembali ke pangkuan Allah Swt, koh, mampus, mangkat, maut, melayang jiwanya, membaham tanah, meninggal, menutup mata, modar, musnah, padam hayat, padam nyawa, punah, putih tulang, putus jiwa, putus napas, putus nyawa, putus umur, tenang, terjengkang, tersekat, tersumbat, tertutup, tetap, tewas, tumpar, tumpas, wafat, dan masih ada kosakata lainnya, dengan penggunaannya yang berbeda.

Dalam tradisi Nusantara, kematian adalah sesuatu yang sangat sakral, bukan hal yang sederhana, sehingga muncul dengan istilah-istilahnya yang bervarian. Karena kematian merupakan hal yang penting, sebagaimana kelahiran, maka banyak memunculkan ungkapan-ungkapan atau kosakata yang tidak sedikit.

Dampak dari kesakralan tersebut, orang yang meninggal tidak cukup dikebumikan, tetapi ada tahapan-tahapannya, dan setelah dikebumikan dibuatkan kijing, diberi nama, tanggal lahir dan tanggal kematiannya, ada pula yang dibangunkan rumah di atasnya. Sedangkan beberapa negara di Arab, bahkan mayoritas, kijing juga jarang didapatkan, dan tidak terdapat nama dan tanggal kematiannya. Seperti pekuburan Baqi’ dan Ma’la.

Selengkapnya dapat dibaca di link berikut:
.
https://alif.id/read/halimiy-zuhdi/memahami-kata-wafat-dan-maut-dalam-linguistik-arab-b222140p/
Status yang tertoreh, terkadang sampah pikir dan serapah hati. Kadang pula sebagai jerat nadi yang berdetak, kadang optimisme yang menghentak, kadang pula curah cerah rindu yang menggelora, kadang kidung ilmu yang menoreh, kadang pula sapa salam untuk para pecinta.
.

Apapun status yang menguap, biarkan terus mengalir, tapi jangan pahami wujud kalimat itu sendiri, kadang banyak baris-baris makna lain yang berada dibelakangnya, lihatlah kembali barangkali juga berwujud ilham bagi sang pembaca.

Salam rindu.
Halimi Zuhdy
Liputan6.com, Jakarta - Usai melaksankaan wujuf di Arafah, jemaah haji selanjutnya akan melakukan rangkaian ibadah lainnya. Mereka akan bergerak ke Muzdalifah dan Mina.
.

Di Muzdalifah, para jemaah haji akan bermalam atau mabit hingga waktu fajar. Di sana, mereka melaksanakan salat Maghrib dan Isya secara jamak dan qashar. Di Muzdalifah juga jamaah haji mengumpulkan batu kerikil yang akan digunakan untuk melempar jumrah.
.

Usai itu, selanjutnya jemaah haji pergi ke Mina untuk melempar jumrah. Ada tiga lokasi melempar jumrah, yaitu Jumrah Aqabah, Jumrah Wusta dan Jumrah Ula. Di Mina jamaah haji wajib bermabit  pada malam 11,12 Dzulhijah bagi jamaah haji yang melaksanakan Nafar Awal atau malam 11,12,13 Dzulhijah bagi jamaah haji yang melaksanakan Nafar Tsani.

Namun siapa sangka, wilayah-wilayah tersebut tentunya memiliki sejarah ataupun cerita masing-masing.

Berikut sejarah atau cerita asal-usul Mina dan Muzdalifah yang dikutip dalam buku Sejarah Haji & Manasik karya Halimi Zuhdy:

Mina

Mina adalah tempat yang disinggahi oleh jamaah haji tanggal 8 Dzulhijjahsebelum ke Arafah,dan mereka yang berada di Mina tanggal 8 sampai tanggal 9 pagi kemudian mereka menuju Arafah. Dan kembali dari wukuf di Arafah dan setelah mabid di Muzdalifah, dan mereka berada di sana hari Nahr,Tasriq dan malamnya sampai selesai melempar jamrah.

Mina itu terketak jamrah-jamrah yang dilontari dan di tempat itu nabi dahulu menginap di malam 9,11,12, dan 13 Dzulhijjah. Ditemapt itu pula dilakukan penyembelihan Hadyu,disitu pula ada masjid besar yang bernama masjid khoif.

Dinamakan Mina karena banyakanya darah yangt ditumpahkan di dalamnya, atau ada riwayat,bahwa setelah Jibril ingin meninggalkan Adam ia berkata " Tamanna" (bercita-citalah,mengharaplah),ia menjawab "atamanna al-Jannah" oleh sebab itu disebut Mina, Karena adanya harapan (umniyah) untuk masuk surga

Muzdalifah

Muzdalifah adalah tempat antara Mina dan Arafah,yang di dalamnya jamaah haji melakukan mabit setelah wukuf di Arafah. Muzdalifah terletak antara Ma'zamai dan Muhassir (dari arah Mina). Muzdalifah disebut juga dengan 'Jam'an' karena tempat ini pada masa juga disebut dengan Masy'aril Haram, karena dia masuk wilayah...
www. Liputan6.com dalam liputannya, banyak mengutip dari buku Manasik Haji dan Sejarahnya karya Halimi Zuhdy (@halimizuhdy3011) dan bahkan menjadi rujukan utama terkait dengan tempat-tempat bersejarah. .
.
Silahkan cari di google : Manasik Haji 2019
Mengapa Hari Tarwiyah?
@halimizuhdy3011

Limadza summiya bi hadza ism? Mengapa disebut hari Tarwiyah.
.

Allah memberikan banyak kesempatan kepada hambanya, untuk selalu mendekatkan diri kepadaNya. Dalam setahun, banyak kesempatan beribadah kepadaNya, ada ibadah harian, seperti shalat lima waktu. Mingguan, shalat Jum'at. Tahunan, seperti Al-asyru al-awail (sepuluh hari pertama) dalam bulan Dzul Hijjah, dan melakukan amal kebaikan di dalamnya, lebih Allah cintai dari melakukan amal di hari-hari lainnya. Dan di dalamnya, ada Yaum Tarwiyah.
.

Kata "Tarwiyah" dari fi'il Badhi "Rawwa" yang bermakna;  berbekal air, melihat di dalamnya, dan beberapa makna lainnya.  Dan hari Tarwiyah yang masyhur adalah hari ke Delapan pada Bulan Dzulhijjah, pada hari itu orang-orang yang sedang melaksanakan haji berangkat menuju Mina dan mereka menginap di Mina.
.

Dalam kitab Al-Inayah Syarh Al-Hidayah, imam Al-Babirti menjelaskan, disebut hari Tarwiyah pada hari tersebut karena jamaah haji itu melihat air pada waktu itu,  yang sebelumnya tidak mereka temui.
.

Ada yang berpendapat, disebut dengan Tarwiyah,  karena jamaah haji pada masa lalu, meminum air ketika mabit di Mina untuk mempersiapkan diri mereka menaiki Jabal Arafah, karena pada masa itu, sedikit sekali persediaan air, dan sulit menemukan sumber air. Maka, jamaah haji menyegarkan diri (irtiwa'), dan meminum air untuk kebutuhan dan bekal mereka menuju Arafah.

Ada pula yang menyebutkan, disebut dengan hari Tarwiyah karena Nabi Ibrahim AS bermimpi pada malam tanggal delapan, seakan-akan ada yang membisiki, "Sungguh Allah SWT memerintahkanmu untuk menyembelih anakmu", ketika terbangun di pagi hari, beliau berfikir dan merenung, "Apakah mimpi ini dari Allah, atau dari Syetan?" maka, dari renungan inilah Tarwiyah dinamakan.
. 
وإنّما سُمِّي يوم التروية بذلك؛ لأنّ إبراهيم -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآله وسَلَّمَ- رأى ليلة الثامن كأنَّ قائلاً يقول له: إنّ الله تعالى يأمرك بذبح ابنك، فلمّا أصبح رؤي؛ أي: افتكر في ذلك من الصباح إلى الرواح؛ أمِنَ الله هذا، أم من الشيطان؟ فمِن ذلك سُمِّي يوم التروية)
(PUNCAK IBADAH, MENUJU SEBUAH PERTEMUAN BESAR)

Halimi Zuhdy

Betapa indah, Allah swt menciptakan berbagai macam ritual Ibadah, seperti; Shalat, Puasa, Zakat, haji dan ibadah lainnya. Keindahannya, bisa kita lihat dan rasakan dari setiap awal dan akhir  ibadah itu sendiri, demikian juga proses dari awal menuju akhir.
.
Akhir dari perjalanan ritual ibadah di atas, menuju sebuah titik besar, yaitu; pertemuan besar, perkumpulan agung, perhelatan indah, dan bertemunya ruh dan diri antar manusia dalam satu tempat, satu waktu dan satu rindu. Sebuah kerinduan antar manusia yang kemudian diberikan wadah oleh Allah swt dengan berbagai macam ibadah;
.
1) Ada kerinduan cinta atas nama kemanusiaan, “zakat”.
.
2) Ada kerinduan harian yang selalu dipupuk, yang kemudian memberikan hakekat cinta yang sebenarnya, “shalat dengan Jamaah di Masjid”.
.
 3) Rindu yang tidak berhenti dan terus mengalir bagai sungai niil, yang terus berkarnaval dan bertemu di samudera cinta, “Haji”. .

4) Dengan mengasah diri, membangun keindahan, mentirakatkan diri dan jiwa agar bertemu dengan sesama ruh yang bersih “puasa”, yang ditutup dengan.
.
5) Perhelatan besar di tanah lapang, dengan satu gerakan dan satu ungkapan takbir membahana dalam prosesi “Shalat Iid Fitri”. .
Kebersamaan, kekuatan, kekokohan, keteguhan, persekutuan, pertautan, kesatuan itulah harapan Islam yang sebenarnya, bukan; permusuhan, perbedaan, perkelahian, pertikaian, pertengkaran, kericuhan, persengketaan, antar umat Islam. .
.
Seperti ka’bah yang memiliki tembok-tembok yang kuat, dengan pondasi yang kokoh, maka percintaan ruh dan diri seseorang dibangun oleh muslim antar negara di dekat ka’bah, agar perkumpulan atau organisasi (tahwaf) berangkat dari sebuah cinta dan selalu dekat dengan Tuhan (baitullah). Maka, membangun sebuah perkumpulan, persatuan, atau organisasi bukan hanya dilandasi oleh materi, kepentingan pribadi, egosime, kedirian, iri, dan dengki, tetapi berlandaskan cinta kepada Allah dan Rasulnya. .
.
Selengkapnya 
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10214645438318827&id=1508880804
Ganti, Buang, atau Tambah, Akan Bahagia
@halimizuhdy3011.

Hidup itu harus selalu bergerak, agar mendapatkan keberkahan. Al-harkah Hiyah Barokah. Bergerak itu tidak harus berlari terus, kadang harus mengganti yang sudah usang, atau membuang yang sudah busuk, atau mengurangi yang berlebih, atau menambah yang kurang. .

Kelamaan duduk di tempat empuk, akan lupa tirakat, bila lupa tirakat, tak kan punya kepekaan sosial,  bahkan hanya menjadi angkuh. Tidak pernah duduk di kursi empuk, walau sekejap, akan merasa paling sederhana, lupa belajar bahwa hidup tak sesederhana dalam pikirannya. Hidup mutawassith itulah idaman, tidak terlalu tinggi kemudian meninggi (sombong), terlalu rendah kemudian merendah dan merasa hina atua terhina. .

Untuk menuju keindahan, kebahagiaan dan kesederhanaan, mari belajar pada kata-kata berikut, sambil menambah kosa kata bahasa Arab ya.wkwkwkw
.

Bila perang tidak pernah usai, kalut dalam hidup, dan peperangan itu ingin berganti dengan sebuah cinta, hilangkan Ra'-nya. ( حرْب) menjadi (حبٌّ).
.

Kadang, terlalu banyak  harta dan kuasa, membuat cepat murka. Bila kemurkaan diri terus melanda, hidup tak bahagia. Bila keburukan dan kejahatan ingin berganti dengan kebahagiaan, bunglah Syin-nya. (شرور) menjadi (سرور)
.

Bila tetap Syin dalam Syadid dipertahankan, ia akan keras selalu, maka sesekali dibuang atau dihilangkan, agar kelembutan datang. (شديد) menjadi (سديد).
.

Bila ingin mulia, jangan boros, jangan pula melampaui batas, apalagi  menghambur-hamburkan harta. Maka, isilah Sin-nya menjadi Syin. (مُسْرف)  menjadi (مُشْرف). .

Banyak orang yang bingung, karena ia jarang melakukan kebaikan, bahkan tidak pernah. Bila ingin bahagia, tambahlah titik pada kata Hairun menjadi Khairun.
(حَيْر) menjadi(خَيْر).
Bila kebaikan selalu ditebar, kesedihan, kebingunangan kan lenyap.
. 
Mengganti huruf demi huruf kadang tidak cukup, butuh pencarian sampai menemukan keindahan. Bila Ha' harbun 
حرب (Peperangan)  diganti Kha' خرب (menghancurkan)  sesekali diganti طَرب (Sukacita) walau kadang tidak bertahan هَرب (melarikan diri).
.

Orang kekurangan, selulu tak puas, biasanya buas, atau sebaliknya. Lanjut komentar
Fir'aun VS Musa
(Takdir Allah Itu Pasti)

Fir'aun menyembelih dan membantai ribuan bayi tak berdosa, agar apa yang dimimpikan tidak benar-benar wujud nyata, semua penafsir mimpi membisik padanya "Akan ada bayi laki-laki yang suatu saat akan melawan kekuasaannya", dan Istananya akan diporak-porandakan. Namun, Bayi itu pun bertandang ke Istananya, tanpa curiga, Fir'aun tersenyum mesra, Bayi itu pun dianggap bagian dari Istananya.

Musa kecil melewati air, ia mengalir menuju istana, seperti memberi isyarat bahwa suatu saat air itu pula yang akan menelan Raja Sombong yang mengaku Tuhan. Dan benarlah, Fir'aun ditelan air laut beserta ribuan tentaranya, mungkin saja ribuan tentara itu pula yang menyembelih bayi-bayi tak berdosa itu. Air itu mengalir, seperti mengalirnya kehidupan, hanya takdir Allah yang mampu mengantarkannya.

Maka, tiada manusia manapun yang akan mampu mencelakai manusia lainnya, kecuali atas izin Allah. Dalam Istana yang megah, Fir'aun dengan lantangnya berucap "Ana Rabbukum al-'Ala, Saya Tuhanmu yang Maha Tinggi", dari sebelah kamarnya, istrinya, Asiah berkata, "Subhanah Rabby al-'Ala, Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi". Betapa takdir itu sudah di TanganNya.
.

Hati itu dalam genggaman Tuhan, bukan dalam kekuasaan manusia, ketika Fir'aun menghalangi Musa AS dari hati ibunya, Allah lembutkan hati istrinya, dan Asiah melebihi segala hati padanya. Sungguh Takdir itu sudah di TanganNya.

Malang, 31 Juli 2019
Menuju Agustus
Rindu Itu Perih
@halimizuhdy3011

Betapa sakitnya merindu
Laksana sengatan ular berbisa
menjalar pada rahasia tubuh

Betapa sakitnya merindu
Setiap detik, bayangnya merengkuh
bagai Lailah al-saja 
gelap gulita, tak ada warna

Betapa sakitnya merindu
Tubuh kering, diperas rasa
Darah berhenti, bila melamunnya tiba-tiba
. 
Betapa sakitnya merindu
Bila bermusafir, setiap baris-baris jalan 
hanya ada baris-baris wajahnya

Betapa sakitnya merindu
Tidur tak pernah lelap
Memimpikannya, pertemuan agungnya

Rindu memang menyakitnya, 
Tapi, bila tak punya "Rasa Rindu" kan lebih menyakitkan.

Bagaimana  Bilal bin Rabah terhenti Adzan, 
bila nama kekasihnya terkenang
. 
Bagaimana Tsaubah pucat pasi, bila sehari tak memandangnya

Bagaimana Abdullah bin Zaid minta dihilangkan pandangannya, bila rindu meronta

Bagaimana Al-Hawari kering air matanya, 
bila nama Sang Nabi dilantunkan

Rindu itu perih kawan!
Perih yang paling diagungkan

Malang, 30 Juli 2019