N. F. Rasidi

N. F. Rasidi Follow

http://pharmatography.com/

1,270 Followers  999 Follow

Share Share Share

Sudah pulang?
.
.
.
Bagaimana tadi di jalan?
Ada orang yang sengaja memelankan laju hanya untuk lebih merasakan terpaan angin di wajahnya. Ada pula yang sengaja berhenti untuk menikmati mentari yang meredup di ujung jalan sana.
.
Kalau setiap hari melewati jalan yang sama, sudah ada berapa manusia yang disapa?
.
Kupikir, jalanan tak akan pernah sama. Hari ini bapak yang biasanya menjahit di teras rumahnya tak nampak, gorong2 di dekat rumah sakit lagi2 dirombak.
.
#pharmatography
1 September 2014,
.
.
.
kami telah meninggalkan rumah menuju Leuwi Gajah. Turun di pertigaan yang asing. Lalu bertanya ke sana sini, di mana kiranya letak alamat yang akan kami huni.
.
1 September 2019,
kami semua telah kembali. Meninggalkan Leuwi Gajah, memilih pulang ke rumah. Pulang; yang kuyakini bukan sebuah akhir dari perjalanan. Bisa jadi, hanya istirahat sesaat sebelum kembali melompat.
.
Dunia mayaku perlu mencatat ini.
Salam.
🌻
Festival buku selalu ramai.
.
.
.
Rakus. Semua ingin dibeli. Judul ini, penulis itu. Membuat kata "Literasi" terdengar sangat sexy.
.
Berita pembakaran dan penyitaan buku beredar. Katanya, buku2 itu menyebarkan paham tertentu. Ah jangan2, kelakuan orang2 itu juga karena pengaruh paham tertentu.
.
Di bantaran Gajah Wong, Yusuf Agency terang-terangan mengobral bukunya. 5ribu, 10ribu, seterusnya. Buku dakwah hingga cerita penjajah. Namun sepi. Agaknya kalah gengsi.
.
Membaca nggak bikin pintar kok. Cuma bikin lebih tahu.
.
#pharmatography
"Ini makam atau maqam, Pak?"
.
.
.
Di tengah keriuhan taman bermain itu, ternyata ada satu tempat yang tak banyak dijamah orang. Di depannya tertulis Makam Kyai Langgeng. Satu joglo kecil yang dari plakat pembuatannya tertulis tahun 1988.
.
Di seberang joglo itulah terdapat satu makam yang sedang diziarahi dua orang. Kata penjaganya, mereka dari Semarang.
.
"Ini makam atau maqam, Pak?" tanyaku. Bapak itu justru menjawabnya dengan sebuah cerita. Bahwa Kyai Langgeng atau Ki Ageng Suryokusumo adalah ulama yang menjadi penasihat Pangeran Diponegoro. Beliau yang juga masih keturunan Mataram ikut berjuang melawan penjajah.
.
Setelah Diponegoro tertangkap, Kyai Langgeng menepi ke Magelang, mendirikan pesantren, hingga akhirnya wafat dan dikebumikan di lokasi yang saat ini menjadi salah satu pemutar roda perekonomian rakyat Magelang. Cerita tadi hanya bersumber dari penuturan, soal kebenarannya perlu dipastikan. .
Al Faatihah.
"Teyuuuung..."
.
.
.
begitu teriaknya kalau dia datang ke rumah. Biasanya dia membawa banyak jajanan yang otomatis akupun ikut menghabiskan. Hari ini, ia ikut pawai bersama grup marching bandnya. Dia memainkan pianika. Senang sekali melihatnya bertumbuh.
.
Ah, Lubnaa sudah hampir remaja...🌻
Jangan khawatir, Pa.
.
.
.
Kemarin sore, kawan baikku mau-maunya kuajak ke pantai menjelang petang. Padahal, aku tahu dia lelah sehabis kerja. Pun jarak yang dia tempuh untuk pulang terhitung jauh. Kami duduk di bibir pantai. Menghirup dan menghela napas teratur. Bercakap. Hening. Hingga berlarian dikejar ombak. Darinya, ada saja hal yang bisa kuendapkan.
.
Tadi selepas kerja, aku ke toko bunga di utara persimpangan. Lama tak berjumpa, bapak penjaga itu bertambah banyak ubannya. Cukup lama kami bertukar obrolan, hingga pada akhirnya ia hadiahkan setangkai sedap malam untukmu. Ia melambaikan tangan ketika aku pamit pulang.
.
Malam ini, takbir Idul Adha bersahut lantang. Jalanan ramai rombongan lalu lalang. Laju sepedaku tak kencang. Tapi bunga yang terbungkus kertas koran itu terjatuh dari keranjang. Belum sempurna sepeda ku pinggirkan, ada seorang yang baik hati menghentikan laju motornya lalu mengambilkan.
.
Barangkali, tulisan ini bisa kau baca.
Dunia masih baik-baik saja.
Orang-orang baik masih ada.
Semoga akan terus ada.
.
Jangan khawatir, Pa.
.
NFR.
.
#pharmatography
Banyak hal yang terjadi selama membaca buku ini.
.
.
.
Kematian, kesakitan, pernikahan, kehilangan, berita baik dan buruk berselingan. Peristiwa-peristiwa itu secara otomatis tersambungkan dengan paparan Henry tentang Stoisisme, sebuah paham filsafat Yunani.
.
Bukan, ini bukan buku teori filsafat. Henry lebih memberi contoh yang relevan dengan kehidupan sekarang. Bagaimana menyikapi kehidupan supaya selaras dengan hakikat kehidupan itu sendiri. Ia menekankan pada satu prinsip; dikotomi kendali. Bahwa dalam hidup, ada hal yang bisa kita kendalikan dan tidak. Manusia sering menghabiskan energi untuk membentuk persepsi. Padahal persepsi orang lain bukan kita yang pegang kendali. Menajamkan nalar, bukan sekadar perasaan. Mengenali porsi dan posisi diri, bahwa semua manusia punya peran yang saling terikat dengan yang lain.
.
Things happen for a reason. Gitu ceunah.
Biarkan saja Nak,
.
.
.
orang2 sibuk mengantre makan, berebut piring dan jajanan. Bermainlah. Sepuasmu. Nanti ketika dewasa, bisa jadi bedak dan gincu lebih merepotkanmu dibanding bercakap dengan orang di sebelahmu. Ah, jangan Nak. Jangan meredup, imajinasi harus tetap hidup!
.
#pharmatography
Tak terhingga sepanjang masa.
.
.
.
"Mba Nurul, ini dimakan to..." Pintanya suatu hari. Lalu aku mengambil sepotong roti bekal yang dia bawa. Kami bercakap. Di pojok ruangan.
.
"Boleh aku elus2 perutnya mba..."
"Ya boleh aja..."
Begitu berkali2. Tiap bertemu. Kuelus perutnya, sesekali kucium. Kurasakan bayi di dalam kandungannya itu bergerak. Takjub sekali.
.
"Wes gek ndang ketularan..." doanya.
"Aamiin. Ga lama lagi kita ketemu ya dedek..."
"Iyaa, tante..."
.
Siang tadi, kutemui keduanya.
Berdampingan.
Beriringan.
MenghadapNya.
.
Bahagialah di sana mba, bersama ananda tercinta.
🌻
#ngaleutjawa
.
.
.
"Pohonnya ditebang Nuy?"
"Anggreknya masih ada ya"
"Kursi yang di depan pindah ke mana?"
...
Terima kasih sudah mengingat rumah kecil kami dengan baik. Tembok depan kami tidak dipasang gerbang, masukin aja motornya ke halaman. Pintu rumah akan selalu terbuka buat kalian.
...
"Dadaaaahhh ati2 yaaaa..."
"Kamu juga ati2 baliknya Nuy"
"Sampai ketemu lagi Nuy"
Kami berpisah di pertigaan. Mereka melanjutkan perjalanan, aku kembali pulang.
...
Ati2 Bang, Gar, Put, Gis, Mang Ir, Kay, De Ervan, Upi, Aud, Puspit, salam kenal Mikha. Nuhuns sabandungeeeun, barudak! :')
🌻
#matikanpetasan
.
Ada satu video memperlihatkan seorang menyalakan petasan dengan ukuran tak lazim, ditonton banyak orang. Petasan itu menggelegar layaknya bom. Kertas pembungkusnya berhamburan. Penonton tertawa, bertepuk tangan, bersorak riang. Kemudian melenggang pulang.
.
Di rumah, bunyi2 gelegar petasan juga terdengar. Sebagian berkedok kembangapi, meski di akhir tetap menyisakan ledakan.
.
Kita hidup nggak sendiri, kawan. Ada bayi2 yang baru lahir yang telinga dan jantungnya masih belum sempurna menerima suara2. Orang2 tua yang sudah ringkih raganya. Atau sanak saudara yang sedang tak sesehat biasanya. Sungguh, letupan petasanmu bisa mengancam hidup mereka!!!!!
.
Bukankah, menyambut hari suci bukan berarti lupa diri. Beramai bersuka cita bukan berarti seenaknya. Tuhanpun tak butuh diseru dengan bubuk mesiu. Ramadan sudah riuh dengan banyak suara kebaikan lewat pengeras2 suara masjid seantero kota. Biarkan Ramadan pergi dengan khidmat, dan bulan Syawal datang dengan nikmat.
.
#matikanpetasan . Meski sudah dibeli, meski sudah dibuat, urungkan. Bisa jadi, justru itulah ibadah terbesarmu selama ramadan!
.
Salam.
.
Cc @polresbantuldiy @drs.suharsono
Catatan mudik.
.
.
.
Paling favorit tetap Lodaya malam pukul 18.55. Atau Turangga, atau Kahuripan, atau Pasundan atau paling mentok Kutojaya yang disambung Pramex untuk sampai di Jogja. Seringnya memilih gerbong paling belakang supaya bisa menyaksikan kereta menjauh dari kota ke kota.
.
Bareng Fifin, pernah satu waktu kami memilih naik bus untuk kembali ke Bandung. Itu pertama dan terkahir. Kami sepakat untuk tidak mengulanginya karena lelah yang berlipat ganda.
.
Pada waktu lain, bareng Endah kami lari2an di Husein setelah pulang kerja. Mengejar waktu yang tinggal beberapa menit saja.
.
Paling ajaib adalah tahun lalu, bermotor bersama barudak Aleut. Menembus kota kota yang asing namanya. 3 hari yang tak akan bisa dilupa.
.
Tahun depan, ke mana?